Blackout Cafe And Lounge Bangka Menghidupkan Silahturahmi Melalui Tradisi Buka Bersama Tokoh Ormas, LSM, Wartawan dan Warga Sekitar 

Reportase Babel, Pangkalan Baru – Hari ini Blackout Cafe And Lounge Bangka Mengadakan Acara Buka Bersama Perwakilan Wartawan, LSM, dan Organisasi Masyarakat (Ormas) Serta Masyarakat Sekitar.

Acara yang digelar di Blackout Cafe And Lounge Bangka Pada Hari Senin (02/03/2026) ini mengusung tema “Menghidupkan Silahturahmi Melalui Tradisi Buka Bersama”

Acara Ini Dihadiri Oleh Berbagai Tokoh Masyarakat, Termasuk KETUA KBO BABEL,KETUA SMSI BABEL, KETUA LSM TOPAN RI BABEL, KETUA ORMAS BMPPB, Para Aktivis, Relawan, Serta Awak Media Dari Berbagai Organisasi Kewartawanan.

“Alhamdulillah, acara ini berjalan lancar bahkan melebihi kapasitas yang disiapkan. Yang terpenting, seluruh tamu dari perwakilan wartawan, LSM, dan Ormas dapat hadir dan Menikmati Hidangan Kebersamaan dalam acara ini,” ujar Anggun selaku Manager Blackout Cafe and Lounge Bangka.

Buka bersama atau yang akrab disebut bukber sudah lama menjadi tradisi yang melekat erat dalam kehidupan masyarakat Muslim Indonesia, terutama selama bulan Ramadan. Dari warung pinggir jalan hingga restoran ramai, dari masjid sederhana hingga aula kantor, momen berbuka bersama orang-orang terdekat seolah menjadi agenda yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Setiap tahun, tradisi ini terus hidup dan bahkan semakin meluas, melampaui batas usia, latar belakang, maupun lingkungan sosial.

BACA JUGA :  Plt Kanwil Ditjendpas Babel dan Karutan Mentok Tinjau Pembangunan MBG di Lingkungan Rutan Mentok

Namun di balik keramaian dan kehangatan yang terlihat dari luar, ada nilai yang jauh lebih dalam yang sedang berjalan di setiap momen bukber. Tradisi ini bukan sekadar cara untuk menghabiskan waktu berbuka dengan suasana yang lebih menyenangkan. Ia adalah salah satu cara paling nyata dan paling mudah dijangkau oleh siapa saja untuk menghidupkan kembali nilai silaturahmi, sebuah nilai yang dalam Islam memiliki kedudukan sangat penting namun sering kali terlupakan di tengah kesibukan sehari-hari.

Dalam perspektif Islam, Ramadan memang dirancang sebagai bulan pembersihan diri sekaligus penguatan hubungan sosial. Ibadah-ibadah yang dianjurkan selama Ramadan, mulai dari sahur bersama, shalat tarawih berjamaah, hingga berbuka bersama, semuanya memiliki dimensi kebersamaan yang kuat. Ini bukan kebetulan. Islam memandang hubungan yang sehat antar sesama manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ketakwaan seseorang. Maka ketika seseorang memilih untuk menghabiskan waktu berbukanya bersama orang lain alih-alih sendirian, secara tidak langsung ia sedang menjalankan nilai-nilai Ramadan dalam bentuknya yang paling sederhana dan paling mudah dirasakan dampaknya.

BACA JUGA :  Skandal, Etika, dan Ujian Nyali Pemkot Pangkalpinang

Itulah mengapa tradisi buka bersama terus bertahan dan bahkan tumbuh dari generasi ke generasi. Ia bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan tanpa makna, melainkan sebuah praktik sosial yang menjawab kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu kebutuhan untuk merasa dikenal, diterima, dan dihargai oleh orang-orang di sekitarnya. Di bulan yang penuh dengan latihan spiritual ini, bukber hadir sebagai pengingat bahwa ibadah terbaik tidak selalu yang paling berat, terkadang cukup dengan duduk bersama, mendengarkan, dan hadir sepenuh hati untuk orang-orang yang kita sayangi.


Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@reportasebabel.com. atau kontak redaksi 0852 3897 3861 Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *